Beberapa
orang telah menceritakan kisah ini kepada saya, antara lain Syaikh Abdullah bin
Muhammad Al-Fauzan Rahimahullah, yaitu kisah sekelompok anak muda bertubuh
kekar dan berotot, tetapi karena kemewahan yang dinikmatinya dan masa muda yang
dialaminya, mereka justru menjadi anak-anak yang durhaka. Mereka adalah
anak-anak dari keluarga berada. Tiga orang dari mereka adalah anak-anak dari
seorang warga Buraidah yang shalih dan terpandang di negerinya. Akan tetapi,
ketiga anak muda itu mempunyai kebiasaan melakukan kerusakan dan mengganggu
sesama. Mereka tidak peduli dengan nasihat siapa pun, apalagi kecaman orang.
Di antara
gangguan yang mereka lakukan ialah mereka suka menghadang para pengangkut hasil
bumi dari luar kota, khususnya para petani. Seorang di antaranya mengambil buah
semangka, yang satu lagi memakan buah-buah lainnya, dan satunya lagi memukuli
pemiliknya, bahkan melukai untanya, atau terkadang menunggangi kudanya. Tidak
seorang pun dari para pendatang itu yang mampu melawan karena fisik mereka yang
lebih kuat.
Sebagaimana kita tahu, batik memang berasal asli dari indonesia. Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kaindengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009
(Arrahmah.com) - "Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat" ( HR. Al Bukhari , Nomor : 4935 )
Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk" (QS. Yasin : 78-79).